The Dearest?

Jarang sebenarnya gue nulis artikel topik ini, tapi ntahlah, mungkin karena menurut gue berkesan kali yaa.. tunggu.. gue koreksi.. sangat berkesan :D

Listen Music Here!

Sejauh gue kenal sama wanita terutama yang punya hubungan lebih, well.. ada banyak karakter & kompleksitas dari mereka masing2. Jadi ungkapan bahwa tiap orang itu punya kelebihan & kekurangannya sendiri-sendiri itu baru bisa gue pahami. Bayangin aja, gue tau bahwa ada wanita yg asik & gaul, tapi dia juga seorang ukhty bergamis berperawakan tenang juga dewasa. Dan ada pula wanita yang diem2 hanya memanfaatkan gue sebagai dompetnya, ada pula wanita yang cuma bisa bawa habit negatif & selalu nuduh gue yang enggak2. Intinya adalah.. banyak kisah = banyak tempaan = banyak pengalaman.

Beberapa temen gue akhirnya mereferensikan apps Tinder, well.. meski agak lama untuk nerima akhirnya gue install juga di September 2019 lalu. Dan dari sejauh ini ga ada satupun yang bener2 nyangkut :ngakaks karena ternyata penyalahguna Tinder itu ga cuma dari kalangan lelaki, tapi juga dari wanita.

Dan pada Maret 2020 awal, apps ini menyatakan Match ke seorang bernama Rika (nama samaran). Di awal Match ini, feel gue masih terkesan flat sih & bukan tanpa alasan, karena dari mantan terakhir yang ngilang gitu aja, masih ada sisa “bekasnya”, jadi masih agak kurang percaya dgn orang baru. Tapi gue cukup bersyukur, karena di sisi lain gue tipikal orang yang melihat ke depan aja tanpa mau berlarut.

Hmm.. Kesan pertama saat gue sapa Rika, semua mengalir gitu aja tanpa kendala & saat dia interest dalam pembicaraan, gue pun ikut kebawa suasana & akhirnya tanpa sadar bisa menikmati pembicaraan dgn baik.

Dalam berhubungan gue tipikal orang yang senang berproses, mungkin karena pengalaman lama jadi kebawa sampe sekarang yang apa2nya jangan terburu2. Bahkan sampe niat minta nomornya pun harus gue tahan dulu sampe beberapa hari ke depan dimana dia akhirnya mulai percaya untuk memberikan nomornya.

Seneng? So pasti! Karena buat gue pribadi, disaat wanita mau memberikan hal yg cukup privasi yang salah satunya adalah nomornya sendiri, itu adalah tanda bahwa gue berhasil meyakinkan dia untuk percaya :malus

Pembicaraan pun pindah jadi via Whatsapp yang mana gue tau pastinya akan lebih intens. Btw, gue sendiri belum menjelaskan background-nya, hmm..

Jadi Rika (24) berasal dari Jawa Timur dengan 3 bersaudara. Saat ini dia masih kuliah melanjutkan S2-nya di sebuah Universitas bisa dibilang bela negara, iya bela negara. Bukan sekedar ambil aja.. Jadi dia adalah sosok yang selalu dipenuhi oleh tugas kuliah negara, bahkan kelak mungkin berubah jadi real tugas negara. Cukup bikin diri gue impressed sih, secara jarang ada perempuan yang mau masuk jurusan yg mungkin orang kebanyakan menganggap monoton, apalagi sampe harus pisah dengan keluarga karena kampus yang jauh.

Dia pun juga baru aja putus dengan mantan yang udah berjalan selama 4 tahun. Yupss.. 4 tahun itu waktu yang ga sebentar, jatuh bangun disana pasti ada, dari yg putus sebentar & jadian lagi, lalu sedih, suka duka semua udah dirasa sampe baik & buruk pun mereka udah saling tau.. Buat gue ini bisa jadi kendala, kenapa? Karena dia harus beradaptasi lagi dengan gue yang notabene orang baru, dimana tanpa sadar, hal yang paling kecil pun bisa dia bandingkan & membuatnya mini flashback di waktu tertentu. Dan lagi2 kepribadian gue yang kedua memaksa untuk jangan memikirkan itu, karena cukuplah gue fokus ke dirinya aja, apapun itu.. Buat apa mengkhawatirkan hal2 yang justru di luar kendali? ;)

Rika adalah wanita yang agak keras, tapi buat gue.. wanita tetaplah wanita, bagaimana pun meski ga terlihat pasti ada sisi lembutnya, jadi lagi2.. gue fokus aja di bagian ini, to treat her as a true woman.. Dan dia pula wanita pertama yang bisa ngomel & marah ke gue hahahaha.. Ntahlah.. gue seneng aja saat itu biarpun dia marah, karena itu salah satu bentuk perhatiannya yang mungkin ga banyak cowo bisa ngerti. Dan kesan ini juga yang mungkin bakal susah gue lupain dari dia.

Sejauh ini.. kendala utama/signifikan dalam hubungan ini adalah keluarganya yang masih belum percaya sepenuhnya kalo gue orang baik. Sebenarnya itu adalah kekhawatiran wajar, mengingat gue & Rika kenal satu sama lain hanya dari apps. Tapi bukankah hubungan itu perjuangan? Kalo ga ada kendala, rasanya akan flat juga.. Dan gue pun ga masalah kalau harus memperjuangkan, jika dilancarkan, ini akan jadi kesan luar biasa buat gue nanti.

Lalu kendala sekunder disini adalah dari dirinya sendiri yang ternyata punya sifat mudah jenuh terhadap sesuatunya, well.. kalo merasa jenuh itu sih hal yang sangat2 lumrah, tapi jika kejenuhan tsb sampai membawa bahwa semua harus berakhir, hmm.. disini agak kurang bijak juga sih. Bukan karena gue berat untuk melepas, toh prinsip bahwa jodoh itu udah Allah yang atur bener2 gue pegang erat banget, jadi biar berat ya lepas aja jika memang itu yg terbaik. Tapi masalahnya adalah, kita semua tau bahwa berumah tangga adalah ibadah terlama, disitu pula lah titik jenuh sangat sering bisa ditemukan, ntah dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, sampe tahunan lamanya!

Memiliki sifat jenuh itu wajar, krn gue pun pernah mengalami ini di mantan gue yang pertama saat kuliah dulu, tapi dulu pemikiran gue udah sampe di tahap bahwa, jika melepas adalah cara terbaik melepas kejenuhan, apa yang terjadi dengan ribuan & jutaan rumah tangga? Bukankah orang tua kita pun masih langgeng?

Dalam sebuah pembicaraan, jika ada sebuah gesekan pemikiran gue lebih sering mengiyakan dulu ketimbang harus diberi penjelasan panjang lebar. Kenapa? Karena guru terbaik adalah pengalaman, jadi rasanya kecil kemungkinan kebanyakan orang akan mengerti jika hanya dijelaskan, tapi gue menganut “kepercayaan” bahwa, setiap orang bisa berubah & berkembang cara berpikirnya seiring berjalannya waktu, so.. selama gue udah menjelaskan akar sebuah pemikiran ke dia, biarkanlah dia tumbuh dengan sendirinya, karena gue sangat sangat percaya bahwa tiap orang punya “deadline” waktu & situasi atas prinsip mereka sendiri.

Gue sendiri ber-ekspektasi lebih di hubungan ini, tapi disaat yang sama gue pun juga ga mau terlalu berharap banyak. Ntahlah.. mungkin meski alam bawah sadar gue masih tertanam masih sulit percaya ke orang baru, tapi niat gue tetep pengen terus optimis.

Well.. gue sebenarnya tipikial orangnya cukup mampu nge-sense sebuah situasi dari seseorang, apakah orang ini perlahan mundur, apakah orang ini interest, apakah orang ini intereset lalu boring, apakah orang ini masih galau dengan pihak ketiga, dsb. Tapi apapun itu, kembali lagi.. buat apa kita memperdulikan apa yang orang lain pikirkan? memangnya kita punya kendali? jadi kembali lagi, yang bisa gue lakukan ya hanya berniat yang bagus2 aja, sisanya serahkan ke Allah gimananya nanti, tapi apapun hasilnya, selalu husnudzon bahwa itu adalah putusan-Nya yang terbaik ~