{"id":1774,"date":"2016-10-09T04:04:00","date_gmt":"2016-10-09T04:04:00","guid":{"rendered":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/?p=1774"},"modified":"2016-10-12T12:54:48","modified_gmt":"2016-10-12T12:54:48","slug":"medsos-mengubah-segalanya","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/blog\/2016\/10\/09\/medsos-mengubah-segalanya\/","title":{"rendered":"Medsos Mengubah Segalanya"},"content":{"rendered":"<figure style=\"width: 349px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/imsandi.files.wordpress.com\/2016\/10\/z22.jpg\" width=\"349\" height=\"206\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Medsos mengubah segalanya<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lagi &amp; lagi, tidak sedikit situasi yang gue liat dimana saat makan bareng, ngumpul bareng, jalan kaki, atau sembari berkendara, semua justru fokus sama hapenya ber-medsos ria. Pernah ga sih guys kalian bertanya, maksudnya ga sekedar melihat tulisan gue ini aja, tapi bener-bener dipikirkan soal pertanyaan,<!--more--><\/p>\n<blockquote>\n<h2><em>&#8220;gue ini memperdaya teknologi atau gue yang diperdaya teknologi?&#8221; :nerd\u00a0<\/em><\/h2>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terus terang, gue pribadi sih seneng aja kalo makin kesini jaman makin maju, semua teknologi mempermudah dalam melakukan aktivitas kesehariannya, bisnis, silaturahim kerabat atau keluarga, dan sebagainya. Cuma kalo sampe kebablasan sih, <strong>bisa annoying<\/strong> juga atau bahkan yang lebih parah bisa mengubah sifat watak seseorang jadi makin <strong>kebas <\/strong>akan perasaan &amp; sosial lingkungannya sendiri. :amazed:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di jaman sekarang, kalo suka sama seseorang biasanya mereka langsung blak-blakan abeesss&#8230; Dan faktanya ini terlepas dari apakah dia itu bergender cowok atau cewek. Cowok terang-terangan itu biasa, tapi sekarang yang cewek kalo suka sama cowok mereka pun bisa <em>frontal<\/em> nunjukkin bahwa mereka juga ngerasain hal yang sama alias ngasih sinyal yang sangat sangat mudah ditebak lho :kisss<\/p>\n<figure style=\"width: 411px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/imsandi.files.wordpress.com\/2016\/10\/zzz.jpg\" alt=\"This old lady has reminded the world to stay in the moment without a phone camera ~\" width=\"411\" height=\"331\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">This old lady has reminded the world to stay in the moment without a phone camera ~<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gue dulu sebagai anak yang SD-nya tahun &#8217;90-an alias sebagai anak <strong>generasi X, <\/strong>kalo suka sama seseorang biasanya berawal dari <em>&#8220;titipan salam dulu&#8221;<\/em> lewat temen<em>, <\/em>misalnya&#8230; <em>&#8220;Eh neng, ada titipan tuh dari Sandi, cieee.. &#8220;, <\/em>dan entah kenapa meski sepele tapi terkesan manis. Lagi-lagi terlepas dari yg ngasih salam itu cowok atau cewek, tapi ini <em>truuueee<\/em> guuyss.. Kaya di film <strong>Si Doel<\/strong> atau <strong>Gita Cinta dari SMA, <\/strong>apa ada dari mereka yang pendekatannya mirip dengan orang jaman sekarang? Dimana jaman generasi X dulu masih <em>sopan <\/em>gitu deh pendekatannya hahaha :D<\/p>\n<blockquote>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>Liat aja sekarang udah bertebaran medsos macem Path, Facebook, Instagram, Tumblr, Bigo, Line, Vine, dsb..<\/strong><\/h4>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang-rang jadi <strong>berlomba-lomba abis<\/strong> untuk menunjukkan siapa yang <strong>PALING AKTIF &amp; EKSIS <\/strong>di jagat dunia maya. Liat tebing nungging aja yang ada di pikiran langsung <em>&#8220;wah.. instagrammable nih pemandangannya&#8221;, <\/em>atau lagi ngerasa keren di gym, langsung <em>selfie<\/em> di depan cermin <em>gym-upload,<\/em> yang cewek juga demikian, lagi ngerasa dirinya <em>&#8220;cantik&#8221; <\/em>karena nyoba lipstik baru, langsung <em>selfie-upload<\/em> dengan <span style=\"color: #ff0000;\"><strong>pengharapan dapet banyak komentar atau <em>like<\/em> dari <em>followersnya,<\/em><\/strong><\/span> belum lagi yang abis liat ada kendaraan tabrakan, langsung deketin TKP cuma buat fotoin TKP di sekitarnya :capedes.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>EPILOGUE?<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak sedikit gue akui orang-orang yang gue kenal dari temen sampai sahabat, berubah drastis semenjak media sosial mempengaruhi mereka. Saat rasa sepi membunuh sekali pun, pikiran reflek mereka langsung menuju ke ponsel (lagi) <strong>yang meski masih<\/strong> <em>dicharge <\/em> setelah seharian digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan menjadi tidak beretika dalam bersikap semakin umum dijumpai, sindiran, cercaan, sampai perang politik pun bisa <strong>mengubah seseorang yang sebenarnya bukan dirinya sebelumnya.. :gila:\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumpah.. jadi diri sendiri itu enak kok, lebih tenang jika hidup tanpa kebohongan.. Mungkin banyak yang tersindir dengan tulisan dadakan gue ini, tapi..<\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\"><em>as long as I tell you the truth, why you so mad? :D<\/em><\/h3>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi tambahan:<\/strong> <a href=\"http:\/\/www.kompasiana.com\/rachmah_dewi\/hidup-di-zaman-yang-dinilai-dari-tanda-love-di-media-sosial_57f4950c5dafbda40b2e29f5\"><strong>Rachmah Dewi<\/strong><\/a><strong> &amp; <a href=\"https:\/\/m.tempo.co\/read\/news\/2016\/04\/07\/108760768\/pengaruh-media-sosial-terhadap-psikologis-manusia-apa-saja\">Tempo<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lagi &amp; lagi, tidak sedikit situasi yang gue liat dimana saat makan bareng, ngumpul bareng, jalan kaki, atau sembari berkendara, semua justru fokus sama hapenya ber-medsos ria. Pernah ga sih guys kalian bertanya, maksudnya ga sekedar melihat tulisan gue ini<\/p>\n<div class=\"entry-read-more\"><a class=\"read-more-link\" href=\"http:\/\/www.sndi.us\/11\/blog\/2016\/10\/09\/medsos-mengubah-segalanya\/\">Read More<span class=\"cleanwp-sr-only\">  Medsos Mengubah Segalanya<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1774","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-download-categories","wpcat-2-id"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1774"}],"version-history":[{"count":18,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1774\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1803,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1774\/revisions\/1803"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}