{"id":424,"date":"2011-10-24T08:15:43","date_gmt":"2011-10-24T01:15:43","guid":{"rendered":"http:\/\/sandikovsky.wordpress.com\/?p=424"},"modified":"2011-10-24T08:15:43","modified_gmt":"2011-10-24T01:15:43","slug":"jika-aku-bertemu-adam-as","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/blog\/2011\/10\/24\/jika-aku-bertemu-adam-as\/","title":{"rendered":"Jika Aku Bertemu Adam AS"},"content":{"rendered":"<p>Sebelumnya maaf ya kalau artikel ini membawa-bawa nama beliau atau ada kata-kata yang kurang berkenan, karena artikel ini memang saya fokuskan untuk diambil hikmah dan nilai positifnya. :)<\/p>\n<p><strong>Aku = Cucu Adam<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>Cucu Adam:<\/strong> Ini semua gara-gara sampean, Mbah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>Adam:<\/strong> Loh, kok tiba-tiba aku disalahin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Lah iya, gara-gara sampean dulu makan buah terlarang, aku sekarang merana. Kalau sampean dulu enggak tergoda Iblis kan kita tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tingggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di negara terkorup, sudah gitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Yo mbuh, sudah lupa. Kejadiannya sudah lama banget. Tapi ini bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Halah, kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih kok sampean bisa tergoda?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Dia bilang, kalau makan buah itu aku bisa abadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> <em>Anti-aging<\/em> gitu?<\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Iya. Pokoknya kekal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Terus sampean percaya? Iblis kok dipercaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Lha wong dia senior.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Maksudnya senior?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari aku dan mbah putrimu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Iblis tinggal di surga? Bo&#8217;ong ah.<\/span><br \/>\n<span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Nah ini nih kalo puasa ndak baca Quran. Baca <strong>Al-Baqarah ayat 30-38<\/strong>. Coba kowe pikir, gimana dia bisa mbisiki aku yang ada di surga kalo dia ndak tinggal di surga juga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang mbisiki, tetep sampean yang salah, Mbah. Gara-gara sampean, aku jadi kere kayak gini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Kowe salah lagi. Manusia itu ndak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat <strong>Al-Baqarah : 30<\/strong>. Sejak awal, sebelum aku lahir\u2026 eh, sebelum aku diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Lah, tapi kan sampean dan mbah putri tinggal di surga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Iya, sempet, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau ndak, cepat atau lambat, mbahmu ini pasti diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya: memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan ngajarin mbah bahasa, ngasih tahu nama semua benda <strong>(Al-Baqarah:31)<\/strong>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Jadi di surga itu cuma sekolah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Kurang lebih kayak gitu. Waktu di surga, simbahmu ini belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah turun ke bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Kok aneh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah sampean gagal, setelah gak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Lah, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu ndak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau ndak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau ndak melakukannya. Tapi, bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru, Tuhan tahu itu. Tapi, meski demikian, toh Dia memilih mbahmu ini, bukan malaikat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Jadi, gak papa kita bikin kesalahan, gitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Ya ndak gitu juga. Kita ndak isa minta orang ndak melakukan kesalahan. Kita cuma isa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Sampean berhasil atau gak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Dua-duanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Kok dua-duanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Aku dan mbah putrimu melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi kami berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Mbah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Berguna toh ya. Karena menyesal, aku dan mbah putrimu dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah <strong>(Al-Baqarah:37)<\/strong>. Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena ndak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Sampean iki lucu, Mbah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Lucu piye?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Lah kalo dia tobat, ya namanya bukan Iblis lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Bener juga kamu ya, he-he-he. Tapi intinya gitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang ndak manusiawi, yang iblisi, itu kalo sudah salah tapi merasa bener, sombong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa? Ndak ngakuin Tuhan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Iblis bukan ateis, dia justru monoteis. Percaya Tuhan yang satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Mosok sih, Mbah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Lha wong dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Terus, kesalahan terbesar dia apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Sombong: menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Wah, persis cucu sampean tuh, Mbah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Ente?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Bukan. Cucu sampean yang lain. Mereka mengaku yang paling bener, kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka ndak mau menghormati orang lain. Kalo sudah ngamuk nih Mbah, orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. <strong>Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Wah, persis Iblis tuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Tapi mereka siap mati Mbah, karena kalo mereka mati nanti masuk surga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Siap mati, tapi ndak siap hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Bedanya, Mbah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Orang yang ndak siap hidup itu ndak siap menjalankan agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Loh, kok?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Lah, aku dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi <strong>(Al-Baqarah:37)<\/strong>. Bukan waktu di surga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Pinter kowe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Cucu siapa dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Cucuku dan mbah putrimu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> BTW, Mbah. Sampean itu kan terkenal dengan satu nama: Adam. Tapi mbah putri itu namanya kok beda-beda? Yang bener iku Hawa, Eve, atau Eva.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Sak karepmu. What\u2019s in a name?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#ff0000\"><strong>CA:<\/strong> Shakespeare, Mbah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:#008000\"><strong>A:<\/strong> Mbuh, sak karepmu.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelumnya maaf ya kalau artikel ini membawa-bawa nama beliau atau ada kata-kata yang kurang berkenan, karena artikel ini memang saya fokuskan untuk diambil hikmah dan nilai positifnya. :) Aku = Cucu Adam Cucu Adam: Ini semua gara-gara sampean, Mbah. Adam:<\/p>\n<div class=\"entry-read-more\"><a class=\"read-more-link\" href=\"http:\/\/www.sndi.us\/11\/blog\/2011\/10\/24\/jika-aku-bertemu-adam-as\/\">Read More<span class=\"cleanwp-sr-only\">  Jika Aku Bertemu Adam AS<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[11,53],"class_list":["post-424","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-muslim","tag-adam","tag-muslim-2","wpcat-5-id"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/424\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.sndi.us\/11\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}