The Intelligence of Qur’an (part 1)

(Artikel Ini pertama kali ditulis di note akun facebook saya pada 20 Juli 2010 :D)

Seperti yang kita ketahui, bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, yang di dalamnya masih sangat MURNI atau belum diterapkan istilah “update” di dalam kandugannya, jadi Qur’an yang kita lihat dan ketahui saat ini adalah Qur’an yang isi dan kandungannya masih terjaga sejak lebih dari 1400 tahun silam.

Tema diatas sengaja kubuat sedemikian rupa, karena jaman sekarang secara tanpa disadari para Muslim hampir menjadi Liberal.

Jika harus aku (Sandi) tanyakan kepada kalian,

* Apa saja tugas seorang Muslim di dunia?

Dengan mudah kalian akan menjawab, shalat, berpuasa, sedekah, zakat, dan membaca Al-Quran. Sebenarnya tidak salah, tapi ada yang kurang jika seorang Muslim hanya melakukan hal-hal yang telah disebutkan diatas, dan alasannya kurang tepat karena setelah aku menjelaskan dibawah, aku harap kalian akhirnya mengerti.

Dan sebelum kumulai, aku akan bertanya sekali lagi,

* Apa perbedaan antara guru agama (Islam) dengan pedagang, pebisnis, kontraktor, dan lainnya?

Renungkan, dan jawab dulu dalam hati, aku jamin kalian pasti akan menjawab bahwa guru agama itu lebih mengetahui agama (Islam) dibanding orang biasa, mereka juga lebih pandai membaca Al-Qur’an, dan juga mengetahui hukum-hukumnya lebih dalam ketimbang orang pada umumnya, dan perbedaan juga terletak pada profesi.

…………. hanya itu?

Think twice..!!

Aku harap kalian tidak berpikiran demikian, yang aku mau adalah, jika kalian ditanyakan seperti pertanyaan diatas, yang membedakannya adalah, HANYA PROFESI!

Why?

Kalaupun seandainya kita bekerja menjadi selain guru agama, lalu memangnya kita tidak diharuskan jago membaca Qur’an, pintar hukum-hukum Islam, atau lebih bijak? Dan memangnya yang diharuskan agar mempunyai skill-skill tersebut hanya guru agama saja?

Islam bukanlah sekedar berpuasa, shalat, ataupun bersedekah. Menjadi Islam berarti siap untuk memikul tanggung jawab sebagaimana Muslim biasanya, bahkan meskipun itu menyangkut pengorbanan diri (materi, waktu, tenaga, dan lain-lain). Dan apa kalian lupa apakah kita ini khususnya para lelaki? kita adalah IMAM, pemimpin keluarga, umat, ayah dari anak, dan suami dari istri, apa kalian tidak malu jika berkeluarga nanti dan kalian ditanya oleh anak-anak kalian tentang agama, dan kalian hanya menjawab, “coba saja kamu tanya guru kamu di sekolah” atau “memangnya kamu tidak diajari guru kamu?”

Menjadi seorang Muslim, selain menjalankan perintahnya kita juga dituntut untuk BERPIKIR tentang guna dari perintah dan peraturannya yang ketat agar kita lebih intim terhadap Sang Illahi. Dan jika kalian ingin melihat siapa saja orang yang hanya sekedar menjalankan perintah-Nya tanpa ada ketulusan dari sebuah pemikiran akan tanggung jawab seorang Muslim, kalian bisa melihat keluar sana, orang-orang yang sibuk beraktifitas dan menjalankan shalat-nya tetapi setelah itu dia berlalu begitu saja tanpa mau sedikit saja “meluangkan” waktu bersama-Nya seusai shalat.

Ada sebuah intelijen dibalik sebuah kitab suci Al-Qur’an, yaitu untuk apa kita sedari kecil dulu di doktrinasi untuk membaca Qur’an, karena memang itu dimaksudkan agar secara tidak langsung kita terbiasa dengan hukum dan peraturan serta isi dari kandungan Qur’an tersebut, dan masih banyak hal-hal intelijen menarik jika ditilik lebih dalam.

Pengalaman:

Allah pernah memberikanku sebuah ujian yang bisa dibilang mengalahkan daya intelijenku sendiri, (Dia Yang Maha Mengetahui) dan aku kalah. ;)

Aku berkenalan dengan seorang wanita, dan aku suka senyuman, keanggunan, kebijaksanaannya, dan bahkan dia baru saja merubah penampilannya menjadi lebih looks-Muslim. Dan tau apa, pertemuanku dengannya sangat rumit, karena banyak sekali keajaiban yang bisa dibilang ada 4 kebetulan, maka dari itulah aku berpendapat mungkin Dia mengirimkannya untukku.

Pendekatanku pun berangsur sampai aku tau bahwa ada seorang lelaki yang juga suka kepadanya, dan bahkan pendekatannya lebih agresif, aku yang bodoh akan hal romance pun sudah pasti kalah, karena kulihat wanita itu merespon baik lelaki yang mendekatinya. :'(

Dalam masa-masa berserahku kepada-Nya akhirnya aku berpikir lebih dalam lagi apa maksud dari semua ini? Aku akhirnya mendapatkan jawaban, yah… Aku (Sandi) terjebak dalam intelijen-Nya, hahaha.. :)

Karena setelah kupikir-pikir, kita mungkin boleh mencintai seorang wanita, TAPI janganlah cinta tersebut membuat Allah cemburu, dengan kata lain cinta terhadap wanita itu lebih besar ketimbang kepada-Nya, akhirnya aku mengetahui kalau Allah takut kehilangan cintaku sendiri sebagai hambanya. Aku mungkin cemburu kepada lelaki yang mungkin hampir berhasil mendekatinya itu, dan sampai akhirnya aku mengetahui, mungkin Allah merasakan hal yang sama, yaitu cemburu kepada wanita itu yang bisa menarik perhatian cintaku kepadanya, bukan kepada Allah, ya begitulah…Allah sedih dan sakit melihatku lebih mencintai perempuan itu daripada Dia sendiri.

“Maaf dan terima kasih ku datang dalam waktu yang bersamaan kepada-Nya”

“My apology and gratitude came to Allah at the same time.”

Sekarang pastilah kalian mengerti, bahwa Al-Qur’an yang sakral dan suci itu memang mempunyai intelijen di atas intelijen yang membuat kalian justru akan mengerti TERLAMBAT. Dan saranku adalah, jangan pernah membuatnya TERLAMBAT, you know what I mean ;). Dan aku harap janganlah kalian dapat dibutakan oleh sesuatu kecuali agama, semisal dibutakan oleh cinta, harta, atau apapun. Karena aku mungkin dapat mengerti, perasaan yang dialami oleh-Nya mungkin sakit melihat hamba-Nya yang menomor-duakan agamanya.

“Thanks to Allah to allow me write this note, I’ll try as possible as I can, I won’t let myself forget about You for every single second.”


Regards

Dimitri Sandikovsky